» Detail News

Kamis, 08 Agustus 2019 - 13:42:41 WIB

Posting by : DEA
Category    : Economic News - Reads : 138



Peluang Brexit Tanpa Kesepakatan Meningkat, Sterling Merosot.


IQPlus, (08/08) - Kemerosotan pound sterling baru-baru ini belum berakhir karena peluang Inggris dan Uni Eropa berpisah tanpa kesepakatan telah melonjak lagi setelah arsitek Brexit, Boris Johnson mengambil alih sebagai Perdana Menteri Inggris pada bulan lalu, sebuah jajak pendapat Reuters menemukan.

Johnson, yang merupakan wajah kampanye Brexit menjelang referendum 2016 dan mulai menjabat pada 24 Juli, telah berulang kali mengatakan ia akan membawa Inggris keluar dari Uni Eropa pada 31 Oktober 2019 dengan atau tanpa kesepakatan. Sterling jatuh ke level terendah terhadap dolar yang tidak terlihat sejak awal 2017 pada awal Agustus.

Sebelum tanggal perceraian itu tiba, pound akan jatuh lebih jauh dan diperdagangkan antara 1,17 dolar AS dan 1,20 dolar AS, jajak pendapat Reuters dari para ahli strategi valuta asing memperkirakan, di bawah 1,21 dolar AS pada Rabu (7/8/2019).

"Kekhawatiran akan Brexit tanpa kesepakatan kemungkinan akan memburuk, meskipun kami mengantisipasi hal itu akan dihindari. Pandangan resmi kami adalah akan ada penundaan, tetapi menendang kaleng di jalan tidak meredakan ketidakpastian," kata Jane Foley, kepala strategi valas di Rabobank dan peramal paling akurat untuk mata uang utama dalam jajak pendapat Reuters tahun lalu.

Inggris awalnya akan meninggalkan Uni Eropa pada akhir Maret tetapi tanggal keberangkatan diperpanjang.

Perkiraan median untuk Brexit yang tidak teratur - di mana tidak ada kesepakatan yang disepakati - melonjak dalam jajak pendapat Reuters pada 2-7 Agustus menjadi 35 persen, naik dari 30 persen yang diberikan pada Juli dan tertinggi sejak Reuters mulai mengajukan pertanyaan ini dua tahun lalu.

Prakiraan dalam jajak pendapat ini berkisar dari serendah 15 persen hingga tertinggi 75 persen.

"Sampai sekarang, sulit untuk mengetahui apa yang akan dilakukan pemerintah yang dipimpin Johnson tentang Brexit, mengingat keraguannya, ketidakpastian dan, kadang-kadang, pesan yang saling bertentangan tentang Brexit," kata Daniel Vernazza, kepala ekonom internasional di UniCredit.

"Namun, sekarang tampaknya cukup jelas bahwa strategi Boris Johnson adalah mencoba untuk memaksa melalui Brexit tanpa kesepakatan pada 31 Oktober," Vernazza, yang tidak berharap Johnson berhasil, menambahkan.(end)

Sumber : www.IQ plus

  Tag :




    Berita Terkait :

  • Bertemu Mahathir, Jokowi Bawa Misi Penyelamatan CPO
  • Donald Trump Sentil The Fed: Suku Bunga Harus Dipangkas Lebih Besar
  • Pendapatan DOID Tumbuh tapi Laba Bersih Menyusut
  • Sumber Energi (ITMA) Kepincut Bisnis Pembangkit
  • Pakuwon Jati (PWON) Merambah ke Bekasi